Tuesday, February 28, 2006

Menulislah secara serampangan


On 2/28/06, mimbar saputro wrote:
> Ada nasehat pakar menulis yang nyeleneh. Ia, Laksana bilang "Menulislah
> dengan buruk, alinea melompat-lompat, alur cerita kacau, bahasa amburadul.
> Istilahnya menulis "sampah".

Mas mimbar njenengan niku nek ngasi nasehat untuk supaya menulis kok aneh bin neko neko to. Lah nek karepe arep nulis skripsi trus mbaca nasehat njenengan lak ya bakalan ra lulus-lulus ta.

Lah mosok nanti mendiskripsi batuan beku bisa jadi begini. Batuan ini warnanya item ke abu-abuan, bentuknya lonjong soale diambil di tepi kali. Rabaannya lumayan halus, kan diambil di kali jadi barangkali udah dipakai untuk ibu-ibu menggosok baju pas cuci-cuci. Kristalnya ya
ndak kliatan wong aku lupa bawa loupe, lah kalau di kali kan yang dibawa malah teropong ... upst !

Alurnya yg mlumpat-mlumpat itu gimana ya .... misale aku mau nulis tentang bakmi jawa, eh tiba-tiba inget sepak bola di lapangan. Nah akhire nulis bakmi Pele ... hehehe kalau bakmi pele ini emang ada beneran looh di pojokan alun-alun lor, sebelah wetan kidul. Lah iya kan, bakmi pele kan termasuk menu wajib kalau sedang nglencer di jogeja je.

Aku sih senengnya bakmi pakai balungan. Makannya sambil mbrakoti balung2 itu. Wah pokoke kalau pesen ngga pernah lupa .... "Pak minta bami goreng kumplit, pakai 'ndasgulu' campur balungane, nggih ". Ndas gulu ini emang hobi, banyak balungnya tapi ada kulitnya ... wis Glek
!!!

Wis abis itu tinggal ngobrol sebentar ... dua bentar ... sampai empat bentar kadang juga belum dibuatin ...ngantri .... Edian tenan kiyi ... bakmi ket mau kok isane godok terus ta ya .... Lah iya aku tuh sering looh beli bakmi, tapi yg jual kalau njualin ngga mau satu-satu, tapi rombongan sekali bikin langsung empat atau lima porsi. Lah tapekno, kalau nunggu sampei empat bentar aja belum dibikinin itu ya nyebelin kan ? Masak beli seporsi aja nunggu sampek antri nomer
enembelas !

Akhire bakmikupun tersaji di depan, lengkap dengan balungan. Wuik untung ngga ada kucing. Kalau ada kucing aku wis mesti diajak rebutan. Lah aku ini suka kucing tapi kucingku kayaknya sebel sama aku.... lah piye, wong kalau aku ngasi balung mesti sudah bersih ... thethelannya
aja wis entek ... hikhikhik ....

Nah kalau crita bakmi yg aku barusan ke jogeja kemaren ya mbalah santai to Mas Mimbar ... tapi kalau aku disuruh nulis ngawur ... ya bingung
Mending makan bakmi pele aja, nyam nyam nyam ....

Glek !


awalnya tulisan ini aku tulis srampangan dalam 1o menit !

Monday, February 27, 2006

Belajar dari adik-adik

"belajar dari siapa saja"

Satu hal yg sulit dilakukan orang adalah belajar dari anak buahnya, atau belajar dari adiknya, atau bahkan belajar dari anaknya. Sangat sulit dan gengsi belajar dari pengikut atau belajar dari generasi penerus. Kita lebih sering dicekoki dengan kata-kata "belajarlah dari sejarah". Belajar dari sejarah bukan hal buruk, tentu saja, karena dengan mengetahui masa lalu yg suram dan cerah kita bisa memilah jalan yang akan dilalui nanti. Belajar dari orang sebelum kita termasuk orang tua kita adalah bekal dalam perjalanan.

Namun perjalanan kita tidak utk kembali ke masa lampau, kita berjalan kedepan, kita berjalan untuk menyongsong nanti, besok pagi, minggu depan, bahkan sepuluh tahun ke depan. MAsa depan bukanlah hal masa lampau yg diulang, waktu berubah, lingkungan berubah, bahkan kita sendiripun berubah.

Nah siapakah yang akan memimpin atau mengontrol jalannya dunia dimasa depan ?
Ya adik-adik kita dan anak anak kita. Merekalah yang akan menjadi peminmpin masa tahun depan dan masa yang akan datang. Merekalah yg akan menentukan bagaimana cara hidup dimasa depan.

Dulu saya tidak tahu bagaimana menggunakan "mouse", anak-anak kita sekarang sangat piawai menggunakan "joystick". Alat kontrol joystick ini bisa jadi akan merupakan alat kontrol kendaraan kita dimasa mendatang, mungkin bukan lagi "steering wheel".

Jadi kenapa malu belajar dari adik-adik dan anak-anak kita ?

RDP
"lebih suka menjadi murid yang belajar, ketimbang menjadi guru yg menilai"

Saturday, February 25, 2006

Quotes from Albert Einstein

[Note: This list of Einstein quotes was being forwarded around the Internet in e-mail, so I decided to put it on my web page. I'm afraid I can't vouch for its authenticity, tell you where it came from, who compiled the list, who Kevin Harris is, or anything like that. Still, the quotes are interesting and enlightening.]

Collected Quotes from Albert Einstein

  • "Any intelligent fool can make things bigger, more complex, and more violent. It takes a touch of genius -- and a lot of courage -- to move in the opposite direction."
  • "Imagination is more important than knowledge."
  • "Gravitation is not responsible for people falling in love."
  • "I want to know God's thoughts; the rest are details."
  • "The hardest thing in the world to understand is the income tax."
  • "Reality is merely an illusion, albeit a very persistent one."
  • "The only real valuable thing is intuition."
  • "A person starts to live when he can live outside himself."
  • "I am convinced that He (God) does not play dice."
  • "God is subtle but he is not malicious."
  • "Weakness of attitude becomes weakness of character."
  • "I never think of the future. It comes soon enough."
  • "The eternal mystery of the world is its comprehensibility."
  • "Sometimes one pays most for the things one gets for nothing."
  • "Science without religion is lame. Religion without science is blind."
  • "Anyone who has never made a mistake has never tried anything new."
  • "Great spirits have often encountered violent opposition from weak minds."
  • "Everything should be made as simple as possible, but not simpler."
  • "Common sense is the collection of prejudices acquired by age eighteen."
  • "Science is a wonderful thing if one does not have to earn one's living at it."
  • "The secret to creativity is knowing how to hide your sources."
  • "The only thing that interferes with my learning is my education."
  • "God does not care about our mathematical difficulties. He integrates empirically."
  • "The whole of science is nothing more than a refinement of everyday thinking."
  • "Technological progress is like an axe in the hands of a pathological criminal."
  • "Peace cannot be kept by force. It can only be achieved by understanding."
  • "The most incomprehensible thing about the world is that it is comprehensible."
  • "We can't solve problems by using the same kind of thinking we used when we created them."
  • "Education is what remains after one has forgotten everything he learned in school."
  • "The important thing is not to stop questioning. Curiosity has its own reason for existing."
  • "Do not worry about your difficulties in Mathematics. I can assure you mine are still greater."
  • "Equations are more important to me, because politics is for the present, but an equation is something for eternity."
  • "If A is a success in life, then A equals x plus y plus z. Work is x; y is play; and z is keeping your mouth shut."
  • "Two things are infinite: the universe and human stupidity; and I'm not sure about the the universe."
  • "As far as the laws of mathematics refer to reality, they are not certain, as far as they are certain, they do not refer to reality."
  • "Whoever undertakes to set himself up as a judge of Truth and Knowledge is shipwrecked by the laughter of the gods."
  • "I know not with what weapons World War III will be fought, but World War IV will be fought with sticks and stones."
  • "In order to form an immaculate member of a flock of sheep one must, above all, be a sheep."
  • "The fear of death is the most unjustified of all fears, for there's no risk of accident for someone who's dead."
  • "Too many of us look upon Americans as dollar chasers. This is a cruel libel, even if it is reiterated thoughtlessly by the Americans themselves."
  • "Heroism on command, senseless violence, and all the loathsome nonsense that goes by the name of patriotism -- how passionately I hate them!"
  • "No, this trick won't work...How on earth are you ever going to explain in terms of chemistry and physics so important a biological phenomenon as first love?"
  • "My religion consists of a humble admiration of the illimitable superior spirit who reveals himself in the slight details we are able to perceive with our frail and feeble mind."
  • "Yes, we have to divide up our time like that, between our politics and our equations. But to me our equations are far more important, for politics are only a matter of present concern. A mathematical equation stands forever."
  • "The release of atom power has changed everything except our way of thinking...the solution to this problem lies in the heart of mankind. If only I had known, I should have become a watchmaker."
  • "Great spirits have always found violent opposition from mediocrities. The latter cannot understand it when a man does not thoughtlessly submit to hereditary prejudices but honestly and courageously uses his intelligence."
  • "The most beautiful thing we can experience is the mysterious. It is the source of all true art and all science. He to whom this emotion is a stranger, who can no longer pause to wonder and stand rapt in awe, is as good as dead: his eyes are closed."
  • "A man's ethical behavior should be based effectually on sympathy, education, and social ties; no religious basis is necessary. Man would indeeded be in a poor way if he had to be restrained by fear of punishment and hope of reward after death."
  • "The further the spiritual evolution of mankind advances, the more certain it seems to me that the path to genuine religiosity does not lie through the fear of life, and the fear of death, and blind faith, but through striving after rational knowledge."
  • "Now he has departed from this strange world a little ahead of me. That means nothing. People like us, who believe in physics, know that the distinction between past, present, and future is only a stubbornly persistent illusion."
  • "You see, wire telegraph is a kind of a very, very long cat. You pull his tail in New York and his head is meowing in Los Angeles. Do you understand this? And radio operates exactly the same way: you send signals here, they receive them there. The only difference is that there is no cat."
  • "One had to cram all this stuff into one's mind for the examinations, whether one liked it or not. This coercion had such a deterring effect on me that, after I had passed the final examination, I found the consideration of any scientific problems distasteful to me for an entire year."
  • "...one of the strongest motives that lead men to art and science is escape from everyday life with its painful crudity and hopeless dreariness, from the fetters of one's own ever-shifting desires. A finely tempered nature longs to escape from the personal life into the world of objective perception and thought."
  • "He who joyfully marches to music rank and file, has already earned my contempt. He has been given a large brain by mistake, since for him the spinal cord would surely suffice. This disgrace to civilization should be done away with at once. Heroism at command, how violently I hate all this, how despicable and ignoble war is; I would rather be torn to shreds than be a part of so base an action. It is my conviction that killing under the cloak of war is nothing but an act of murder."
  • "A human being is a part of a whole, called by us _universe_, a part limited in time and space. He experiences himself, his thoughts and feelings as something separated from the rest... a kind of optical delusion of his consciousness. This delusion is a kind of prison for us, restricting us to our personal desires and to affection for a few persons nearest to us. Our task must be to free ourselves from this prison by widening our circle of compassion to embrace all living creatures and the whole of nature in its beauty."
  • "Not everything that counts can be counted, and not everything that can be counted counts." (Sign hanging in Einstein's office at Princeton)

Copyright: Kevin Harris 1995 (may be freely distributed with this acknowledgement)

Dosenkupun suka JoGet


Reuni selalu saja menjadikan kita mengingat masa lalu, masa muda, masa ceria. Reuni Geologi UGM di Kampus T Geologi UGM tanggal 17-18 February lalupun cukup meriah. Acara reuni ini merupakan gabungan dengan acara Dies Natalis Fakultas Teknik UGM. Acara reuni ini tidak hanya untuk hura-hura. Sebelumnya didahului dengan acara workshop membahas kurikulum baru Teknik Geologi UGM.

Pembahasan kurikulum ini cukup serius dan banyak sekali input-input yg diperoleh jurusan dari saran serta informasi dari alumni sebagai 'stake holder' dalam dunia ajar-mengajar ini. Walupun banyak yg cenderung memberikan kasus-kasus yg dialami ketika awal bekerja, ketika membimbing mahasiswa kerja praktek, maupun ketika bekerja dengan lulusan baru.

Acara reuni yg diselenggarakan malam hari tidak kalah serunya. Acara reuni Geologi UGM ini juga dihadiri oleh "pesaing" intitusi pendidikan lain atau lebih tepatnya "partner" membangun negara yaitu ITB. Kali ini tidak tanggung-tanggung dihadiri oleh Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso, M.Sc. Pak Djoko siang hari sebelumnya menjadi nara sumber dalam penyusunan kurikulum baru 2006 ini ikut menikmati acara reuni dengan kolega-kolega seprofesinya. Pak Djoko yang juga sebagai ahli keilmu bumian ini memberikan Topik : Paradigma Pengembangan Pendidikan dan Kompetensi Ilmu Kebumian. Sebuah wawasan filosofis kenapa manusia harus selalu belajar dan bagaimana fungsi lembaga pendidikan dalam kehidupan manusia.

Seperti biasanya reuni dimana-mana selalu menjadi ajang ujicoba menjadi anak muda lagi. Kali inipun banyak yg dengan rileks dan santai berjoget bersama.

Duh pak dosenku berjoget nih


Wednesday, February 22, 2006

Kuala Lumpur is getting Hot and Hot and Hot !!!

Since last two years stay in KL I can feel that this city is getting hotterrrr.
When I was start stay here KL is a pleasant place, with no traffic jam. But to day KL is no longer like two years ago.

Two years ago I just spent 10 minutes to drive from apartment to office. Last week I spent 40 minutes just for 4 Km from home to office, I was then try to use LRT and again still has to wait until two or three trains pass trough .... couse it was packed ... I dont want to be "sardin" of course. A new appartmen complex were build close to Setia Wangsa LRT station. This complexs would consist of more than 5 highrise building with more than 15 storey.... dont know who will stay there ... new comer from Indonesia ? ... wupst !

KL is growing .... yes its growing, but if KL do not learn about the fast growing city like his neighbor Jakarta, .... I wonder that in the next decade KL woould be like Jakarta with traffic jam for daily menu. Hope the traffic will be handle better and the Mass Transport System will be implemented soon.

Howgh !

Monday, February 20, 2006

KL makin penuh aja ....

Gilee ...
KL bentar lagi mirip Jakarta, ke ?

Pagi-pagi brangkat ke kantor jalan sudah penuh sesak. Hari-hari yg biasa berangkat pukul 7:30 WK (Waktu KL) pakai mobil sekarang sudah tidak memungkinkan lagi. Pekan lalu memakan waktu 40 menit sampai kantor yg berjarak hanya 4 Km ini.
Kali ini saya menggunakan LRT, naik dari Stesen SetiaWangsa ke Stesen Ampang Park yg hanya berjarak 4-5 stesen saja. Masih lumayan hanya 10 menit, namun datang pukul 7:10 WK sudah tidak bisa lagi langsung masuk ketika LRT datang. Harus menunggu kloter berikutnya.

Dua tahun lalu ketika aku datang di KL sepertinya semua lancar, santai dan tenang-tenang saja. Ke kantor bawa mobil juga hanya 15 menit sudah nyampe.

Perkembangan KL ini sepertinya seperti jakarta beberapa dekade lalu (mungkin semasa Bang Ali jadi Gubernur), dimana pertumbuhan sangat cepat politik mercusuar dengan Tugu Monas yg menarik turis asing maupun turis domestik. KL sekarang juga memiliki mercu suar berupa TwinTower. Turispun berdatangan baik lokal maupun global. Perkembangan gedung-gedung apartement sangat pesat. Di dekat Kampung Warisan sudah dibangun apartmen baru dengan lebih dari 5 gedung tinggi bertingkat hingga 15 lantai. Barangkali ini yg menjadikan LRT penuh sesak.

Howgh!

Tuesday, February 14, 2006

Kegiatan "ritual" yg sangat personal

Freespeech ...
free expression tanpa tanggung jawab hanyalah masalah buang hajat saja ... iya itu sama saja berak kok. kalau anak kecil mau berak ya sembarangan ajah, mau berak di kamar tamu kek, mau berak di dapur kek ... itu kan sembarangan aja ... karena masih anak-anak makanya ngga pakai tangung jawab.... ngga pakai ba bi bu .... .... iih jijay dech gwe !.


Hal yg sama dengan kebebasan berekspresi. Siapa saja berhak untuk berekspresi, siapa saja berhak untuk berbicara. Tapi kalau berbicara disembarang tempat, dan berbicara sembarangan tanpa tanggung jawab ... maka yg terjadi hanyalah seperti anak kecil melaksanakan hajat genital-nya. Membuat orang lain sebel. Lah kalau nyokap bokapnya tentunya maklum. Lah kalau anak tetangga yg berak sembarang dihalaman kita ?

Berak emang sangat-sangat personal, private dan ngga boleh ada yg liat.
Ada yang berak sambil jongkok ada yg berak sambil baca koran, ada juga yang berak trus dicuci pakai air, tapi ada juga yg pakai kertas. Tapi kalau ada orang sedang berak jangan sesekali diintip deh, apalagi diolok-olok pasti orang tersebut marah.

Kayaknya beragama juga hal sama ...paling tidak mirip,lah ... Kalau anda mengintip orang sedang melaksanakan kegiatan agamanya trus dikritik tentunya dia akan menyatakan bahwa ritual ini adalah urusan pribadinya. Hal ini termasuk juga pada orang-orang yg selalu meneriakkan free speech dan free expression Jadi jangan heran kalau ada yg berdoa sambil membungkukkan badan, ada yg sambil menengadahkan tangan, ada yg tangannya sambil didekep didada, ada yg sujud dsb. Jangan sesekali menyalahkan atau mengajari kalau kamu emang ngga bener-bener deket dengan orang tersebut. Dan jangan sesekali mengkritik cara orang lain menjalankan kegiatan "ritual"nya kalau anda tidak tahu tentang upacara "ritual" itu. Setiap orang akan melakukannya dengan cara masing-masing.

Jadi kalau ada orang mengintip orang lain yg sedang menjalankan "ritual" dan ternyata berbeda dengan ritual yg sering anda lakukan ... wis ta lah, diem aja ... meneng wae ... mereka menjalankan sesuai dengan kayakinannya, dan kebiasaan yg dilakukannya. Asalkan "ritual" itu tidak menganggumu, biarkan dia mau jungkir walik sekalipun.

Kalau ada orang yg sakit mencret tentunya akan bauk banget ya ... nah kalau orang yg sakit mencret ini anda tegur tentunya dia sakit dua kali, sakit hati dan sakit perut. Jadi anda harus menahan amarah atau rasa kesal karena terganggunya orang lain yg menjalankan "ritual" .... yg diperlukan disini adalah toleransi ... ya toleransi !

Siapa saja pasti ingin melakukan kegiatan "ritual" ini secara personal ....
tanpa diketahui orang lain.

ah aku ini bicara berak atau beragama sih ?
mboh ah !


rdp

Saturday, February 04, 2006

Bekerja atau memperkerjakan ...


On 1/31/06, PRAKOSO.Anton@total.com wrote:
>
> Atau mungkin ada baiknya dana Konsorsium KPS ini dibuat sedemikian rupa
> agar si penerima nantinya tidak berujung hanya jadi pekerja dan pekerja
> lagi, tetapi akhirnya menciptakan lapangan kerja.....

Menarik alinea awal tulisan Anprax ini. Menciptakan lapangan kerja dengan beasiswa.

Dari pengamatan selintas (bukan survey nyaintifik tentunya), banyak sekali atau hampir semua pengusaha atau entrepreneur yg berhasi menciptakan lapangan kerja adalah mereka-mereka yg pernah "mengenyam" sebagai pekerja. Paling tidak pernah merasakan sebagai pekerja.

Secara umum (lagi-lagi pengamatan personal saja), paling tidak para pencipta lapangan kerja ini pernah menjadi pekerja selama 5 tahun. Artinya ada proses "sekolah" atau belajar mencari uang yang dimulai dari menjadi pekerja dahulu. Fresh graduate dibenaknya selalu berusaha mencari kerja (hampir smua) sebagai pegawai, karena mungkin belum yakin atau tidak ada keyakinan akan kesuksesan, atau bahkan brangkali
tidak tahu lika-liku mencari keuntungan bisnis yg bukan gaji. Baru kemuadian karena jiwa entrepreneurnya ada dari sononya akhirnya muncul dan menjadi dominan.

Kemunculan jiwa bisnis pengusaha-pengusaha inipun macam-macam alasannya:

- Ada yg karena perusahaannya bangkrut sehingga di PHK, kmuadian berusaha mencari kerja lain ternyata memang susah dan "terpaksa" mencari makan sendiri dimana coba-coba menjalankan bisnis. Banyak yg sukses karena adanya "keterpaksaan" ini.

- Ada juga pengusaha baru yang karena mendapatkan pesangon kemudian mencoba langsung berbisnis dan sukses. Walaupun ada juga yg kembali menjadi pekerja karena secara mental belum siap menjadi pengusaha yg mandiri.

- Namun ada juga yg karena tahu bahwa sebenernya "gaji" yg diperolehnya tidak sepadan atau tidak seperti yg diharapkan, sehingga memicu utk keluar dari pekerjaan dan akhirnya membuat usaha mandiri.

Saya sendiri tidak (belum kuat) memiliki mentalitas bekerja mandiri.
Ntah nantinya, kalau dipepet terus, termasuk dipepetin temen-temen untuk berusaha mandiri. Keinginan untuk mandiri ini selalu "menghantui" saya.

Nah kembali ke diskusi semula, apakah mungkin beasiswa diberikan utk menunjang penciptaan lapangan kerja. Mnurutku sih sulit walopun bukan hal yg tidak mungkin. Peluang selalu saja ada, keberanian mencoba hal baru itu itu yg tidak mudah.

Salam
RDP-