Tuesday, March 28, 2006

Paradox Diskusi

Ketika masing-masing menganggap dirinya sudah memandang dengan cara holistik maka ambyarlah makna holistik tadi.

Cara yg paling tepat mensikapi era saat ini juga dengan kondisi kemampuan saat ini barangkali hanyalah dengan memberikan sikap toleransi atas adanya perbedaan, dan keterbukaan terhadap munculnya perubahan.

rdp

Wednesday, March 22, 2006

"Merasakan" balapan bukan menonton balapan F-1

Sudah kedua kali ini saya nonton lomba balap Formula-1. Dulu saya hanya menyaksikan "race-day", namun kali ini saya menyempatkan menonton kualifikasi penentuan posisi di hari sabtu dan "race day" di hari minggu.

Menonton F-1 di sirkuit Sepang ini sepertinya tidak mungkin, yang bisa dilakukan hanyalah merasakan balapan, tapi bukan ikut balapan looh. Bagaimana tidak dengan kendaraan berkecepatan 300Km/jam ini dalam jarak dari tempat duduk ke sirkuit hanya 50 meteran, lah yang mau ditonton apanya, coba.

Namun berada disekitar sirkuit yg terasa sekali bedanya. Ya, bener-bener "terasa". Suasana panas terasa pada hari sabtu sewaktu qualification. Suhu udara mencapai 37-38 deg C dan panasnya jalan sirkuit hingga 50 deg C. Pantas saja Schumi van Ferrari langsung minta ganti mesin, sehingga harus turun 10 rank. Padahal sudah menduduki posisi ketiga pada waktu kualifikasi. Namun ternyata pergantian mesin ini tidak banyak menolongnya karena ternyata hari minggu (race day) udara cukup mendung dan suhu udara tidak sepanas hari sabtu. Bahkan kota Kuala Lumpur yang berjarak 50 Km dari sirkuit ini terjadi hujan deras. Tentu saja terlambat untuk tidak mengganti mesin lagi.

Memotret kendaraan melaju kencang dengan kecepatan 300 Km/jam tentulah mengasyikkan. Yang namany amendapat buntut atau hanya ujung atau goyang adalah hal yg biasa. Untunglah tidak menggunakan film celluloid lagi. Namun karena digital ini langsung bisa dibuang kalau yakin hasilnya tidak bagus. Bahkan ternyata banyak yg menarik ketika hal-hal yg tidak disangka muncul di dalam hasil jepretan. Seperti foto disebelah ini.

Sensasi suara mesin Formula-1

Ketika berada ditempat duduk getaran sertasuara mesin-mesin ini bener-bener terasa menggelegar. Tidak mungkin mendengarkan tanpa penutup telinga, bener-bener memekakkan telinga suara mesin Formula. Dan bagi yg belum pernah menonton F-1 maka swara F-1 ini mungkin tidak terbayangkan. Tahun lalu di Sepang didahului dengan pertunjukan Air Show dengan pesawat jet tempur Sukhoi terbarunya TD Malaysia, namun suara jet ini ternyata kalah jauh dengan suara mobil-mobil Formula-1 ini. Unbelievable untuk mendengarkan suara menggelegar ini.

Dan inilah yg harus dirasakan ketika berada di sirkuit balapan Formula-1.

Kalau mau menonton Formula-1 ya dirumah saja, di TV akan lebih asyik, tapi kalau ingin merasakan balapan Formula-1 ya di sirkuit. Dan selalu saja, karena saya tidak berada di dekat garis finish maka ketika balapan usai saya masih tidak tahu hasil akhir balapan, emang siapa sih yang menang ?
Who cares !

Thursday, March 16, 2006

"Survival mode" vs "Productivity mode"

Kalau boleh saya berfikir dichotomy dalam sebuah langkah manusia, kelompok manusia, bahkan sebuah perusahaan atau sebesar bangsa dan negara, maka akan ada dua "mode" utama. Dua mode ini adalah "survival mode" dan "productivity mode".

Survival mode
Ketika kondisi terpepet manusia akan kembali pada sisi binatangnya yaitu mempertahankan diri. Mempertahankan diri ini tidak selalu karena ada lawan persaingan, namun juga mempertahanan diri dari kepunahan.

Productivity modeDalam kondisi yg cukp kondusif, tentunya manusia akan mulai mencoba "berkarya" untuk menjadi manusia yg sempurna. Kreatiftas berjalan, ide bermunculan, akhirnya produktifitas manusia semakin besar.Ketika melihat sebuah pedebatan tentunya akan ada paling dua pihak yg bertikai atau saling mengadu argumentasi. Nah kalau anda sedikit berpikir dimana orang itu berasal maka akan terlihat apakah dia sedang berlakon menjalankan "survival mode" atau berlakon "productivity mode".

Hal yg paling baru tentunya ketika berdiskusi soal Block Cepu. Bagi yang menjalankan peran survival mode tentunya akan ngotot berdasarkan keinginan untuk mempertahankan hidup, dengan sedikit concern tentang keekonomian secara utuh. Akan lebih bersifat menggunakan serta menekankan nasionalisme.

Tulisan sebelumnya "minder tanda tak mampu" merupakan salah satu bentuk berpikir dengan "survival mode". Walaupun saya berusaha se-netral mungkin. Namun ternyata rasa nasionalisme sayapun tidak lepas begitu saja. Kalau vulgarnya saya ingin menyatakan "This is my country, I have to have control to my property !".

Ketika menjalankan peran "survival mode" biasanya tidak berpikir global paling banter regional atau bahkan lokal, lebih mementingkan diri sendiri. Dalam hal ini bisa saja bukan individual namun atasnama bangsa sendiri, atau demi kelompok sendiri. Dan ada kecenderungan menganggap lawannya sebagai musuh atau lawan yg harus dikalahkan.

Berbeda dengan kawan-kawan lain yg barangkali menjalankan peran atau lakon "productivity mode" ketika berargumentasi kasus Cepu. Dasar yg dipikirkan adalah bagaimana mengoptimumkan hasil Cepu, berpikir lebih realistis, lebih sering berdasarkan keekonomian. Juga melihat kasus ini sebagai kasus bisnis saja. Faktor belajar dari pengelolaan cepu bukannya diabaikan tetapi lebih sebagai ekses bukan hal utama.Tidak ada yg benar dan salah dalam hal menjalankan dua mode ini. Sangat mungkin kedua ini akan dialankan bergantian, atau sangat situasional.

Namun tentunya kecenderungan bahwa rakyat Indonesia ini lebih banyak berpikir survival mode sukar ditepis. Apapun alasannya pasti akan sangat masuk akal. Lah wong jumlah yg tersedia sedikit, yg berebut buanyak. Hukum ygberlaku selah hukum rimba. Makanya lelakon "survival mode" menjadi sangat dominan di Indonesia.

Sunday, March 12, 2006

Maaf bagi yg tidak berkenan !

Aku ini barangkali termasuk kulit badak atau ngga sensitif. Aku sering heran kenapa banyak aku jumpai di milist seseorang menuliskan "maaf bagi yg tidak bekernan". Mungkin sebagai ungkapan halus takut-takut menyinggung perasaan orang lain. Tapi dalam hati saya malah kadang melihatnya berbeda .... lagi-lagi saya mesti ganti kaca mata :(

Kalau sudah tahu bahwa tulisannya akan menyakiti orang lain ya jangan di posting, kecuali demi kebaikan mereka. Dan kalau sudah demi kebaikan mereka tentunya ngga usah takut-takut di posting. Menuju ke kebaikan itu tentunya ada kemajuan dalam banyak sisi, termasuk mendewasakan. Dan semua tahu "growing pain", menjadi dewasa itu kadang sakit ... iya sakit. Paling enak emang menjadi anak-anak tanpa pernah menjadi dewasa. Tetapi menjadi tua itu sudah kodrat, sedangkan menjadi dewasa itu hanyalah pilihan.

Jadi kalau anda tidak bekenan dengan sebuah tulisan ... ya gimana ya
kalau anda tidak suka membaca diluar apa yg sudah dipikirkan ... lah untuk apa membaca ?

Lebih lagi banyak yg menuliskan ... "kebenaran datangnya dari Allah dan kesalahan datangnya dari saya"... Aku malah berpikir, apa iya kau bisa berbuat diluar kehendak Allah ?

mumet aku

Saturday, March 11, 2006

Kebebasan berpikir

Hadiah ultah dari "musuh"ku dirumah :

On 3/12/06, yuenda Vicky Larasati wrote:
From: yuenda Vicky Larasati
Date: Mar 12, 2006 9:36 AM
Subject: Happy birthday daddy......
To: Rovicky Dwi Putrohari

Kebebasan berpikir
sebuah opini....

Kebebasan berpikir adalah hak azasi manusia yang sangat tinggi nilainya hingga tak terbeli dengan materi dan harta benda lainnya. Disaat segala sesuatu dapat dibeli dengan uang dimana hasil pemikiran maupun cara berfikir bisa dimanipulasi dengan imbalan materi, bebas berfikir masih menempati urutan pertama sebagai sebuah kebebasan yang hakiki..
Tidak seorangpun tahu dan berhak tahu apa yang sedang kita fikirkan bahkan ketika kebebasan berfikir mengembara hingga mendobrak tata norma dan sebuah commonsensepun, siapa peduli...

Pada orang dewasa kebebasan berfikir sangat kompleks dan semrawut. Hasil kebebasan berfikir menjadikan orang dewasa tak henti2nya untuk selalu berperang memberikan argumentasinya dalam sebuah diskusi yang selalu menarik.Bahkan terkadang mereka bingung antara pemikiran dan kenyataan, sebuah obsesi hasil karya pemikiran bebas diwujudkan dalam sebuah kenyataan meski tampak aneh jika diterapkan dalam sebuah tatanan masyarakat karena tidak sesuai dengan norma2 . Apa nggak aneh jika demi kebahagiaan dunia akherat, orang dewasa bermain-main dengan bom kemudian meledakkannya.....lha kalo cuma 'klepon' jajanan pasar yangg meledak, nggak akan bikin geger...paling pol cuma nyiprat ngotorin baju dan membuat mulut kotor...Nah..kalau bom beneran yang meledak...wiiihh...nyipratnya sekampung apalagi hasil kotorannya.....sereeemm.....!!

Bentuk kebebasan berfikir para ABG lebih bisa diterima dan dikenal oleh masyarakat pada umumnya. Kenakalan2 remaja seperti tindakan mencuri barang temannya, mencorat -coret tembok, aksi ngebut dijalan, berkelahi, adalah beberapa bentuk aspirasi dari sebuah pemikiran bebas para remaja yang belum mengenal batasan2 mengenai sebab akibat sebuah perbuatan, sehingga demi untuk kepentingan keren dan beken...resiko urusan belakang !! Pokoknya nyantai aja men...!! begitu sesumbar mereka.
Memang ada masanya seorang remaja suka melamun mengembangkan fantasinya entah tentang keinginan2nya, harapan2, cita2, idealisme, ...semua dipikir secara bebas!!semua bercampur aduk menjadi satu..hingga remaja menjadi sering 'angot'2an alias BeTe yang menjadikan suasana hati mereka cepat berubah-ubah menjadi mudah 'uring'2an serta gembira.

Ketika masih remaja kegiatan ngalamun juga tidak aku lewatkan...pasti ada waktu senggang terisi dengan lamunan..tapi sayangnya eyangku termasuk eyang yang heboh ketika melihat seorang perempuan diam merenung seorang diri...." wis rasah mikir sing 'aeng-aeng'...." (jangan mikir yg aneh2).... begitu selalu kata beliau...yah!! bubar deh lamunanku....karena takut ketauan,acara ngalamun jadi jarang aku lakukan abis kata eyangku nggak baik buat perempuan....membuat orang jadi sering berkhayal !!

Sebuah pemikiran bebas dapat memberikan hasil positif maupun negatif. Pemikiran kreatif sebagi hasil pemikiran bebas tanpa tekanan akan memberikan sumbangan non materiil yang tidak dapat dianggap sepele, berbeda dengan pemikiran yang selalu mengarah menuju tindakan2 dengan kecenderungan untuk selalu menempati posisi oposan dalam berbagai bidang.Dalam hal ini, kebebasan berfikir akan membuahkan suatu bencana ketika sebuah libido tidak dapat mengalahkan ego manusia. Peperangan batin yang tak terbendung menjadikan manusia memberontak untuk bertindak brutal ingin membebaskan diri dari pemikiran2 liar yang selalu berkecamuk dalam benaknya.

Kayaknya nih....demi keselamatan dan kebahagiaan umat manusia, rangsangan untuk menciptakan pemikiran kreatif menjadi sebuah kepentingan yang mendesak daripada memikirkan hal aneh2 yang membuat 'miris' masyarakat awam.Wallahualambissawab !!


Dedicated to my beloved husband...
.

Tak ada sekuntum bunga, tak ada birthday cake, ..... juga tak ada candle light dinner.....
Hari ini suami,kekasih, suhu, teman sekaligus musuh bebuyutanku genap 43 tahun. Menapaki usia lebih dari seperempat abad .....usia yang kata orang adalah usia puber kedua.....
Happy birthday kang.....hope you will be wise and loyal hubby......


Salam
rayimu ...

--
http://yuenda.blogspot.com
http://buletinwiatmi.multiply.com

Monday, March 06, 2006

Melawan kodrat dan hukum alam !

Seorang teman mengirim imil tentang DropOut (DO di ITB yang ternyata ada hubungan antara duwik (kekayaan) dengan kemampuan seseorang :

On 3/3/06, ismail wrote:
> Tahun ini ITB mendrop out 298 mahasiswanya karena tidak mencapai nilai
> minimalnya ( biasanya setelah 2 tahun kuliah). dan ternyata yg didrop ini
> adalah mahasiswa yang disaring lewat jalur SPMB ( tes secara Nasional ),
> sedangkan yang disaring lewat jalur kusus ( dg tes di ITB langsung) tidak
> ada yg dikeluarakan , bahkan cenderung lebih baik , demikian kata Pak
> Rektornya.
> Padahal selama ini ada kesan yg diterima di jalur kusus itu "modal otaknya
> cetek" dan seolah olah yg dilewat SPMB lebih berbobot.
>
> ISM


Kalau boleh diambil benang merah maka asumsiku mudah saja :"yg kaya akan masuk dengan test langsung dan yg miskin akan mencoba masuk dengan test SPMB", kan biaya test langsung jelas lebih muahal. Nah kalau yg SPMB lebih banyak yg DO artine apa ? Berarti yg miskin "lebih mungkin" kurang pinter dibanding yang kaya. Benar ngga ?

Lah temenku banyak yg mencak2 ndak percaya lah wong aku ndak gitu kok.
Coba baca nih :

On 3/6/06, Abdullatif Setyadi wrote:
> Justru kami tidak setuju dengan pengkaitan antara otak
> dengan kaya - miskin...


Aku sekedar menjawab dengan cerita semoga berguna buat semua

Knapa ga stuju Kak La Tif ?
Mau coba bertaruh melihat data statistiknya ?

Terus terang aku masih terobsesi dengan statistik yg dibuat pak Djoko Wintolo (Dosen UGM) tahun 80-an, yg menunjukkan korelasi antara IP (Index prestasi) dan penghasilan/pendidikan orang tua. (mungkin Pak Djoko malah sudah lupa dengan statistik yg mengobsesi saya ini).

Dan kau tahu ndak apa obsesiku ... ?
Aku ingin melawan data statistik itu !
Aku ingin merubah bahwa data statistik itu salah !
Ya jelas ndak adil lah masak anak wong mlarat tetep mlarat, sing sugit yo sugih terus ?

Yaitu dengan menunjukkan bahwa statistik itu tidak betul ...dengan cara ... ya itu usaha keras, belajar terus, ikut ini itu, menyibukkan diri jadi asisten, mencari beasiswa dsb. Lah piye wong bapakku juga bukan sarjana cuman guru, ibuku guru TK, bapakku guru SMP. Akupun pernah diajak bapak ke salah satu Pak Dhe-ku untk meminjam uang buat bayar spp semesteran juga. Jadi aku jelas bukan keturunan wong sugih.

Namun usahaku merubah data statistik itu ternyata banyak "sia-sia"nya ...statistik itu sudah menjadi hukum alam (natural phenomena). Menurut statistik itu: anaknya dosen (anak sarjana) lebih banyak yg pinter (IP tinggi) ketimbang anak guru TK (bukan sarjana). Aku kan trus berfikir njujug saja ... weeee lah anaknya tukang becak paling banter jadi tukang bajay.

Aku pun tak kuasa menahan hukum alam tentunya.
Walopun akau akhirnya lulus ke dua, dengan IP lebih bagus dibanding temen yg lain dan aku dapet beasiswa .... Dan aku diterima di sebuah perusahaan perminyakan, dimana aku satu-satunya alumni Geologi UGM yang diterima bekerja di perminyakan utk angkatan tahun itu. Tapi apa yg kuperoleh dari data statistik itu kini ? Aku ternyata hanya sebagai "anomali" dari data statistik itu ... Aku ga mampu merubah "modus-mean-median" dari sebaran data statistik (kenyataan) ini.


Moral of the story :
Manusia itu akan selalu berusaha melawan kodrat alam. Banyak yg gagal ada yg sukses ... Namun hukum alam ya tetap saja akan begitu jalannya. Lantas bagaimana dengan manusia yg suka melawan alam ini ? ... Kalau manusia hanya bisa menerima hukum alam ini apa adanya, pun ini tidak berguna sebagai manusia sejati, ya menjadi manusia hanyalah menjadi kesia-siaan saja kalau menerima dunia ini apaadanya tanpa usaha. Katanya manusia khalifah di bumi, harus bisa menjadi memimpin. Yah, paling tidak memimpin diri sendiri. Berusaha merubah kodrat alam sepertinya juga sama "sia-sia"-nya ... yang mampu kita lakukan hanyalah merubah diri sendiri.

Alhamdulillah ...
itu saja ...

strange ... yet still unknown phenomena