Thursday, March 16, 2006

"Survival mode" vs "Productivity mode"

Kalau boleh saya berfikir dichotomy dalam sebuah langkah manusia, kelompok manusia, bahkan sebuah perusahaan atau sebesar bangsa dan negara, maka akan ada dua "mode" utama. Dua mode ini adalah "survival mode" dan "productivity mode".

Survival mode
Ketika kondisi terpepet manusia akan kembali pada sisi binatangnya yaitu mempertahankan diri. Mempertahankan diri ini tidak selalu karena ada lawan persaingan, namun juga mempertahanan diri dari kepunahan.

Productivity modeDalam kondisi yg cukp kondusif, tentunya manusia akan mulai mencoba "berkarya" untuk menjadi manusia yg sempurna. Kreatiftas berjalan, ide bermunculan, akhirnya produktifitas manusia semakin besar.Ketika melihat sebuah pedebatan tentunya akan ada paling dua pihak yg bertikai atau saling mengadu argumentasi. Nah kalau anda sedikit berpikir dimana orang itu berasal maka akan terlihat apakah dia sedang berlakon menjalankan "survival mode" atau berlakon "productivity mode".

Hal yg paling baru tentunya ketika berdiskusi soal Block Cepu. Bagi yang menjalankan peran survival mode tentunya akan ngotot berdasarkan keinginan untuk mempertahankan hidup, dengan sedikit concern tentang keekonomian secara utuh. Akan lebih bersifat menggunakan serta menekankan nasionalisme.

Tulisan sebelumnya "minder tanda tak mampu" merupakan salah satu bentuk berpikir dengan "survival mode". Walaupun saya berusaha se-netral mungkin. Namun ternyata rasa nasionalisme sayapun tidak lepas begitu saja. Kalau vulgarnya saya ingin menyatakan "This is my country, I have to have control to my property !".

Ketika menjalankan peran "survival mode" biasanya tidak berpikir global paling banter regional atau bahkan lokal, lebih mementingkan diri sendiri. Dalam hal ini bisa saja bukan individual namun atasnama bangsa sendiri, atau demi kelompok sendiri. Dan ada kecenderungan menganggap lawannya sebagai musuh atau lawan yg harus dikalahkan.

Berbeda dengan kawan-kawan lain yg barangkali menjalankan peran atau lakon "productivity mode" ketika berargumentasi kasus Cepu. Dasar yg dipikirkan adalah bagaimana mengoptimumkan hasil Cepu, berpikir lebih realistis, lebih sering berdasarkan keekonomian. Juga melihat kasus ini sebagai kasus bisnis saja. Faktor belajar dari pengelolaan cepu bukannya diabaikan tetapi lebih sebagai ekses bukan hal utama.Tidak ada yg benar dan salah dalam hal menjalankan dua mode ini. Sangat mungkin kedua ini akan dialankan bergantian, atau sangat situasional.

Namun tentunya kecenderungan bahwa rakyat Indonesia ini lebih banyak berpikir survival mode sukar ditepis. Apapun alasannya pasti akan sangat masuk akal. Lah wong jumlah yg tersedia sedikit, yg berebut buanyak. Hukum ygberlaku selah hukum rimba. Makanya lelakon "survival mode" menjadi sangat dominan di Indonesia.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home